
Dulu saya mikir, Table of Contents alias TOC itu cuma hiasan di artikel panjang. Ya kayak daftar isi di buku, tapi versi digital. Eh, ternyata makin ke sini, makin banyak website besar yang pakai TOC, mulai dari Wikipedia sampai blog-blog marketing. Sebagai blogger, saya sempat ngerasa TOC tuh ribet. “Ah, bikin artikel aja sudah pusing, ditambah bikin daftar isi segala.” Tapi setelah saya coba pasang di beberapa tulisan panjang, baru kerasa bedanya.
Kenapa Saya Mulai Pakai TOC
Ada beberapa alasan kenapa saya akhirnya jatuh hati sama TOC.
Bikin Pembaca Lebih Betah
Bayangin kalau kita bikin artikel 2000 kata tanpa TOC. Pembaca harus scroll panjang-panjang. Kalau mereka cuma butuh info di tengah, bisa-bisa langsung kabur. Nah, dengan TOC mereka bisa klik bagian yang dibutuhin, tinggal lompat aja.
Terlihat Lebih Rapi
Saya suka kalau tulisan saya terlihat rapi. Dengan TOC, struktur artikel jadi jelas: ada judul utama, subjudul, sampai turunan. Bukan cuma enak buat pembaca, tapi saya sendiri jadi lebih semangat bikin artikel panjang.
Dapat “Jump Link” di Google
Ini sih bonus manis. Kadang kalau artikel kita ada TOC, Google bisa nampilin link langsung ke subjudul di hasil pencarian. Misalnya ada artikel “Cara Ngeblog”, bisa keluar link kecil kayak: Langkah 1, Langkah 2, Tips Tambahan. Itu bikin artikel lebih menonjol dan peluang diklik lebih besar.
Dari Sisi SEO, Apa Bener Ngaruh?
Kalau bicara algoritma Google, TOC bukan faktor utama. Google nggak pernah bilang, “Kalau ada TOC, ranking naik.” Tapi efek tidak langsungnya banyak banget:
- Pembaca betah lebih lama (dwell time naik).
- Bounce rate bisa turun karena orang langsung nemuin apa yang mereka cari.
- Struktur artikel jelas, heading keindeks rapi.
Semua ini bikin Google lebih gampang paham isi artikel kita. Jadi walaupun bukan faktor langsung, TOC jelas punya kontribusi di SEO.
Tantangan Pasang TOC
Nggak semuanya mulus. Ada beberapa hal yang bikin saya harus utak-atik dulu:
- Kalau TOC diletakkan di paling atas, kadang bikin pembaca langsung ketemu daftar panjang, malah males baca. Solusinya saya set default TOC dalam posisi tertutup.
- Artikel dengan banyak heading bisa bikin TOC keliatan kayak daftar belanja. Di sinilah desain penting: jangan terlalu panjang, cukup tampilkan level H2 dan H3.
- Di mobile, TOC kadang makan tempat. Jadi saya pastikan tampilannya responsif dan bisa di-toggle.
Pengalaman di Blog Saya
Sejujurnya, setelah saya coba, artikel yang punya TOC cenderung lebih “ramah pembaca”. Saya sering lihat di Google Analytics, waktu baca lebih panjang. Bahkan ada beberapa artikel yang CTR-nya naik setelah Google nampilin jump link dari TOC.
Dari pengalaman ini saya jadi makin yakin kalau TOC itu worth it buat dipasang, terutama untuk artikel panjang dan informatif.
Kesimpulan
TOC memang bukan jaminan artikel langsung masuk page one. Tapi buat saya pribadi, TOC itu semacam “senjata kecil” yang bantu banget dalam membangun struktur konten, ningkatin kenyamanan pembaca, sekaligus ngasih sinyal positif ke Google.
Akhirnya, saya memutuskan untuk pakai TOC di hampir semua blog yang saya kelola. Kadang ada artikel opini atau cerita ringan yang nggak butuh TOC, tapi kalau kontennya panjang dan serius, TOC sekarang jadi andalan saya.